STOP. Jgn nilai anakku tersayang

By Cicits - March 23, 2015

“Anak Anda hiperaktif ya ?” Bisik seorang dokter spesialis kulit kepada saya dan suami saya.

Kaget juga ketika ditanya seperti itu oleh seorang pihak yang kami percaya untuk mengobati kulit anak kami, Kaizen, yang terkena gigitan serangga.

Hampir 2 tahun, kami membesarkan Kaizen dan tidak sedikitpun kami melihat adanya gejala hiperaktif dalam diri Kaizen. Padahal saya seorang psikolog yang bergerak di dunia anak-anak dan hidup didalamnya. Minat saya dan niat saya adalah ingin membantu orangtua mendidik anak-anak mereka dengan lebih baik lagi. Eee… ada seorang dokter spesialis kulit yang dengan seenaknya sendiri menilai dan melabel anak saya tercinta, hanya dari pertemuan sekali seumur hidup, cuman 5 menit saja.

Saat itu Kaizen masih berusia 1 tahun 6 bulan. Masa dimana anak-anak ingin memegang segala sesuatu, ingin menaiki segala sesuatu dan ingin semuanya. Pokoknya semua hal adalah baru baginya sehingga menarik untuk dipegang, dilihat dan dinaiki. 

“Bukan dok, AKTIF bukan hiperaktif.” Demikian jawaban saya sambil sedikit menahan dongkol. Untung saja, dokter itu tidak menanyakan lebih lanjut. Jika iya… mungkin bisa saya kuliahi beliaunya dari A hingga Z tentang anak Hiperaktif.

Namun… dari pertemuan singkat itu, membuat saya merenung kembali tentang kejadian yang menimpa saya. 
Bagaimana jika pasangan yang ditanya itu bukan kami ? 
Bagaimana jika anak yang dilabel seperti itu bukan Kaizen melainkan anak orang yang lain yang kebetulan memiliki karakteristik aktif seperti Kaizen kemudian di label Hiperaktif oleh dokter spesialis kulit itu ?

Saya bisa membayangkan orangtua itu pasti akan merasa ada yang salah dengan anaknya. Kemudian segera memeriksakan anaknya kepada pihak-pihak yang dianggap berkompeten. Ketika hasilnya mengatakan bahwa anaknya normal. Orangtua merasa tidak percaya,”Bagaimana bisa normal ? Ini dokter yang mengatakan kalau ada sesuatu yang aneh dengan anak saya. Dokter spesialis lagi. Anak saya ini tidak bisa diam, pegang sana pegang sini. Kalau diajak ngomong tidak mau liat kearah saya. Diam hanya kalau tidur saja. Kalau sudah bangun tidur, rumah sudah dapat dipastikan berantakan kaya kapal pecah. PERIKSA ULANG ! apa saya perlu bawa ke psikiater atau psikolog lain ?”.

Ada pengalaman yang terjadi dengan teman saya yang menikah dengan orang asing dan tinggal disana, ikut suami. Anak pertamanya baru berbicara dengan lancar ketika usianya menjelang 3 tahun.

Apakah ini normal ? Yup… anak ini masih tergolong normal karena sehari-hari ia menggunakan bahasa indonesia dengan ibunya sedangkan jika dengan ayahnya ia menggunakan bahasa mandarin. Saya berani mengatakan anak ini normal karena ia tanggap ketika diminta melakukan sesuatu tapi ia kesulitan untuk mengekspresikan bahasanya. Keadaan ini berarti si anak masih berproses mencerna kata-kata yang ada dikepalanya, antara bahasa indonesia atau bahasa mandarin. Ketika kognitifnya telah mampu mencerna, terbukalah lidah dan bibir si anak, banyak kata yang keluar dari bibir mungilnya.  

Ada lagi kasus tentang anak usia 2 tahun 4 bulan yang sulit makan, jam tidur yang terbalik antara pagi dan malam, yang jika diajak berbicara tidak mau menatap mata lawan bicaranya, ketika diminta melakukan sesuatu tidak mau tapi ketika tidak diminta, anak ini bisa melakukan dengan benar. Pengasuh barunya sudah merasa ada yang tidak beres dengan anak asuhnya ini dan sudah bingung bagaimana cara membuat anak ini bisa berperilaku normal seperti anak kebanyakan. Tentu saja niat baik pengasuh tidak tepat sasaran karena anak ini sebenarnya adalah anak normal yang berada dalam pengasuhan orangtua yang kurang perhatian. Ayah ibunya sibuk bekerja, sehari-hari ia lebih sering bersama neneknya. Permainannya yang tersering dimainkan adalah playstation. Kondisi keluarga si anak inilah yang menyebabkan anak ini menjadi sedikit terlambat dalam beberapa aspek perkembangannya.

Orangtua yang baik, terkadang kita ini terlalu mendengarkan orang lain ketimbang anak sendiri. Terkadang pula kita ini tidak mempercayai kemampuan anak kita dan buru-buru menilai anak kita memiliki kekurangan dan bermasalah. Bahkan jika yang melabel anak kita adalah seorang psikolog ataupun psikiater pun, anda harus bersikap tidak percaya dan mencari bukti kebenaran dari label mereka.

Bagaimana caranya ? BELAJAR !

Cari tahu tentang perilaku dan ciri anak yang dianggap berkebutuhan khusus. Observasi langsung anak yang memang benar-benar memiliki kebutuhan khusus. Belajar juga ciri anak normal pada umumnya. Terkadang anak normal pun bisa terlihat mirip dengan anak berkebutuhan khusus.
Jika anda telah memiliki cukup bukti barulah anda bisa mengambil keputusan hendak diasuh dan dididik seperti apa anak kita sesuai dengan kebutuhannya.

Terakhir ! Refleksikan diri anda. Apakah kita telah menjadi orangtua yang baik bagi anak kita ?

Fenomena banyaknya anak yang dilabel berkebutuhan khusus mulai meningkat akhir-akhir ini. Ada kemungkinan peningkatan ini bukan disebabkan memang banyak anak lahir dengan kebutuhan khusus melainkan banyak orangtua yang terlalu sibuk untuk bekerja dan sibuk dengan dirinya sendiri. Akibatnya, orangtua lupa untuk belajar mengenai perkembangan anak sesuai usianya dan memantaunya.

Kurangnya pengetahuan ini mengakibatkan orangtua tidak tahu apa yang bisa dilakukan oleh anak usia tertentu tapi mereka menuntut anak-anak mereka mampu berperilaku baik, sopan dan penurut.

Baik, sopan dan penurut, bukanlah perilaku ajaib yang bisa terjadi dalam sekejap mata. Perilaku ini harus dilatih dan dikembangkan. Ada masanya untuk usia berapa kita sudah mulai bisa mengajarkannya. 

Perilaku “nakal” yang ditampilkan oleh anak seringkali merupakan akibat dari perilaku kita sendiri. misal anak usia 2 tahun, tidak mau mendengarkan nasihat dari kita, suka melanggar hal-hal yang kita larang untuk dipegang.

Coba cek ! apakah anda terlalu sering melarang anak kita untuk memegang hal-hal yang sedikit kotor ? Apakah Anda terlalu sering melarang anak untuk tidak naik-naik kursi/meja/jendela ? Apakah Anda terlalu sering untuk meminta anak cuci tangan karena telah memegang tanah ?

Terlalu seringnya anak usia 1-2 tahun dilarang ini dan itu, bisa menyebabkan anak mengembangkan perilaku membangkang, yang pada akhirnya akan menjadi karakter bandel.

Masa 1-2 tahun adalah masa eksplorasi bagi anak. Jadi merupakan hal yang wajar jika semua hal adalah baru dan menarik bagi dirinya karena dia memang baru saja melepaskan diri dari sangkarnya. Dari semula yang tidak bisa berjalan kemudian bisa berjalan bebas tanpa harus dipegangi lagi.

Simpanlah kata larangan Anda hanya untuk hal-hal yang berbahaya dan untuk hal-hal yang memang belum waktunya disentuh. Jika Anda melakukan ini,  niscaya anak akan mendengarkan ketika kita melarang untuk memegang sesuatu.

Jika kita menerapkan ini maka kita telah menangkal salah satu hukum pikiran manusia (yang aneh) yaitu “Semakin Dilarang Semakin Menarik”.  
Jadi apa yang harus kita lakukan dengan penilaian orang lain  yang belum tentu benar dan terkadang ngawur itu ?

Kita tidak bisa menghindari penilaian orang karena penilaian itu adalah hak setiap orang. Yang bisa kita kendalikan adalah bagaimana sikap kita dalam menanggapi penilaian mereka yang menurut kita kurang tepat. Kitalah yang paling mengenal diri anak kita bukan orang lain. Kita lah yang paling lama bersama anak kita, jadi jangan biarkan penilaian orang lain membuat kita ragu-ragu terhadap anak kita. Keraguan kita akan sangat jelas terbaca oleh anak kita melalui perilaku kita. Keraguan kita akan berakibat anak pun akan meragukan dirinya sendiri.

Kita sendiripun sering ragu terhadap diri kita sendiri, mungkin saja hal ini diakibatkan diri kita terlalu sering diragukan  oleh orangtua kita sendiri pada masa lampau.

Anak-anak itu memiliki perkembangan yang sangat pesat baik fisik maupun psikis. Label yang diberikan secara sembarangan bisa membuat anak kita berhenti berkembang. Apalagi jika label itu menyangkut psikisnya.

Tahukah Anda bahwa perkembangan yang optimal itu ditopang oleh pondasi psikis yang baik ? 
Tubuh memang boleh cacat tapi pikiran harus tetap prima. 
Pikiran yang prima akan memudahkan kita untuk menangani setiap tantangan kehidupan yang ada.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda Sekeluarga
Sandra Mungliandi

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Bedug

Berkali-kali flightku di batalkan karena asap menghalangi jarak pandang pesawat yang hendak take off. Baru sekali ini di antara puluhan kali...