Telepon Pamer

By Cicits - October 05, 2011

Suatu siang, dimana saya mulai bosen sama kerjaan, perut lapar dan jam hampir tiba untuk istirahat. Tiba-tiba telp di meja berdering. Males banget, fikir saya, paling telpon untuk nawarin barang :D
Ternyata dia teman kuliah saya yang pernah sengaja saya blocked tahun lalu. Hampi setahun berarti. Dia menelpon saya untuk menanyakan buku-bukunya yang saya pinjam dulu, yang mana sudah saya berikan ke teman yang lain atas perintahnya sendiri. Ngobrol ngalor ngidul ternyata saya tahu niat dia telpon saya adalah untuk... Pamer. Hahahahaa.

Saya ga ngerti dengan perasaan inferior nya kepada saya. Setiap berteman saya tidak membuat kasta, lo lebih baik dari gue, atau GUE lebih baik dari lo. Saya hanya mengikuti rule umum saja, dimana yang lebih muda seharusnya menghormati yang lebih tua. Karena dia ini, bisa disebut sebaya dengan saya jadi no problemo untuk berbahasa gaul dan saling cela-celaan.
Saya dua kali bertengkar dengan dia, melalui masa diem2an yang panjang terus baikan lagi. Di perdebatan terakhir sengaja saya menjaga jarak dan memang tidak berniat memperbaiki hubungan lagi, karena kemudian dia lulus kuliah dan saya masih.. kuliah. Haha. Dia ini orangnya unik. Saya adalah orang berlatarbelakang seperti dia, fighter buat cita-cita. Saya sebenarnya masih lebih baik sih, sedikit :D. Sama lainnya adalah kami suka ngobrol sampe gila, ngomongin apapun dan menganalogikan sesuatu dari sudut pandang lain yang membuat kami ngakak sampe tengah malam buta.

Sampe semua rasanya udah ga cocok lagi, karena kemudian saya menikah dan dia tidak merubah type pertemanan, intinya saya sudah tidak sebebas dulu lagi. Ada perasaan dan waktu yang harus saya alokasikan untuk suami. Sama seperti saya yang jadi jauh sama Chikma dan Mbak Laila *sahabat saya yang seru dan baiknya maksimal to the fullest* karena mereka menikah duluan, saya lama-lama hanya jadi teman ‘Haii” dibandingkan sahabat yang sampe pagi bisa curhat2an. Tapi itu khan suatu fase hidup yang harus diterima. Dan kami senang-senang saja dengan perubahan-perubahan itu. Intinya, disaat ada waktu yang tepat kami masih bisa akrab dan cerita panjang lebar, hanya saat ada waktu yang tepat saja. Sebatas itu.
Dan setelah dia breaking the ice dengan menelpon duluan ke saya, dan saya banyak bertranformasi dari fikiran seorang gadis ke Ibu2 :D, saya legowo saja menyambut dia kembali, malah dengan lempengnya saya bilang; main dong kerumah  #oalahhhmaaakk,

lalu mengalirlah kata-kata baru;
‘sekarang gaji sarjana gue udah melebihi gaji lo yang kerja bertahun-tahun’ à *wiiiyy wiyyy.. Alhamdulillah ya, sesuatu..

‘sekarang gue udah ga bisa main karena gue sibuk banget, gue pegang konstruksi yang uangnya miliaran’  *ohhh*
sekarang gue udah ga kena debu dan kepanasan karena udah pasang AC dikamar’ *baiklah..*

Dan yang paling mencengangkan adalah pengakuannya yang;
‘seminggu hampir 3x gw di entertain sama supplier, karakoean’ *duh, nih si eneng, cewek2 kok maunya diajak entertain karokean neng, apa bisa all out di depan orang-orang asing begitu, apa juga ga mengurangi kredibilitas sebagai seorang profesional? Ah, dia belum berubah, ternyata.

Akan tetapi, saya tidak bisa lagi berkomentar banyak, karena saya sengaja mengijinkan dirinya untuk mejadi lebih besar daripada saya, karena sepertinya dia selalu berusaha untuk ‘lebih baik’ daripada saya. Apa susahnya sih membuat orang senang? Hehe...
Setelah puas ‘membalas’ saya dia menginformasikan bahwa dia akan segera bekerja di perusahaan gas nasional, dalam waktu dekat dia akan pindah tempat, lincah seperti kancil *pengakuannya*. Saya masih senyum-senyum saja.

Saya sekali lagi tidak bisa mengcompare kehidupan saya dan dia, karena hidup kami masing-masing tidak bisa dikalibrasi. Saya merasa cukup dengan hidup yang saya raih sejauh ini dan masih berusaha untuk membaik, saya mendoakan teman sayapun disana demikian, hehe.

Terakhir yang saya ingat;
Internet buat gue Cuma buat cari kerjaan doang, gue ga suka komen di facebook atau browing2 dunia fashion, menurut gue ga guna lah. Sekarang gue mau fokus buat kerjaan cari duit buat bisa benerin rumah supaya punya rumah yang bagus kaya lo.’

Saya terkikik dalam hati, browsing yang dimaksud itu sudah menjadi keseharian saya padahal sebelum jam kantor dimulai. Mungkin selama ini saya telah menjadi raw model buat dia, mungkin juga tidak.
Tapi, telpon pamernya hari ini membuat saya semakin mengerti betapa perasaan inferior (kadang) penting buat seseorang. Buat gue ga guna lah. Hahahaaa.




  • Share:

You Might Also Like

0 comments

Bedug

Berkali-kali flightku di batalkan karena asap menghalangi jarak pandang pesawat yang hendak take off. Baru sekali ini di antara puluhan kali...