Keunikan anak
Intro :
16.02.15
Hy mommies,
Yuk kita baca artikel berupa diskusi kali ini
Berupa memahami keunikan anak.
Semoga menginspirasi!
-------------------------
Disclaimer :
1. Artikel berikut bisa di temukan di bentuk forum parenting lainnya. Artikel ini disebarkan dengan sumber yang disebutkan dengan tujuan berbagi informasi berharga.
2. Artikel berikut bisa jadi belum cocok untuk kondisi masing-masing keluarga namun memahami isi materi dengan baik bisa jadi sangat berguna di kemudian hari.
3. Dipersilahkan menyebarkan artikel dengan menyebutkan sumbernya.
4. Silahkan menyimpan artikel atau bisa mengunjungi blog Kijar
5. Di persilahkan untuk berkomentar dan bertanya atas isi materi untuk di diskusikan bersama-sama dengan bahasa yang hangat dan santun.
---------------------------
SOURCE : HSMN Yogyakarta
Tema diskusi "Belajar memahami keunikan anak"
Oleh Abah Lilik
Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah Rabbil 'alamin.
Perkenalkan, saya Fadli Riza, ayah 4 anak.
Bahagia sekali bisa ada komunitas HSMN ini, Beberapa tahun yang lalu, sy mencoba untuk mempraktekkan home Schooling pd anak kami yg ketiga, walaupun hanya bertahan 1 tahun dan kembali ke sekolah formal, ternyata memerlukan mental yg beda dan konsep yg unik.
Alhamdulillah, walaupun begitu, terlihat lebih mudah memahami keunikan anak ketiga tersebut, dengan kemampuan visual dan grafisnya.
Tema memahami keunikan anak ini saya pilih, lebih dikarenakan pengalaman masalalu saya, baik pengalaman diri maupun setelah jadi trainer.
Pengalaman pribadi :
Sejak kecil saya selalu memainkan jari di udara, seolah olah membayang sedang menggambar 3Dimensi. Suka mengatur ulang isi akuarium. Dan punya tempat unik, untuk berada di dunia nya sendiri, yaitu lemari pakaian yg sudah digambar tombol tombol, kertas sebagai monitor dll. Kemudian melihat isi kolam dan menceritakan nya kembali secara detail.
Dan ndk terlalu minat pelajaran sekolah secara umum. Menginjak Smp dan sma jadi tempat curhat teman teman.. Sayangnya sampai di jogja bingung, ada semacam rasa bersalah kalo tidak kuliah, tapi mau kuliah bingung jurusan apa.
Hingga suatu hari bertemu dengan seorang coach pendiri primagama, alm. Bapak Yasri Sulaiman. Setelah 3hari 2malam di training, beliau mengatakan pada saya, kamu kok mau bertanya tapi kok ketakutan seperti itu, saya jawab bingung, takut salah nanya.. Akhirnya beliau ajak bicara berdua saja, kemudian setelah itu beliau memegang kepala saya dan mengatakan, otakmu itu bukan teknik industri, tapi psikologi. Padahal saat itu saya kuliah di teknik industri
Pengalaman dari peserta training
Banyak diantara anak smp dan sma bahkan yang kuliah, ketika ditanya siapa dirimu, apa yang membuat kamu bahagia, apa keunikan yg membedakan dirimu dengan yang lain, umum nya menjawab dengan terbata bata. Tapi mereka begitu lancar menceritakan film, berita tv dll
Hal inilah yang membuat berfikir, sebenarnya Allah sudah memberitahukan pd kita melalui peristiwa sejak kecil sampai dewasa, bagaimana kita merespon, berbicara dan bersikap tentang suatu hal, yang menunjukkan siapa kita,
Hanya saja Sistem pendidikan klasikal, dan formal rasanya sulit untuk mengajak siswa 'menemukan dirinya' karena satu guru harus menghadapi banyak murid, yg seringkali disukai secara seragam. Akhirnya setelah anak pertama saya lulus Smp, dengan nilai bahasa yg di atas rata rata dan nilai matematika serta ipa standar dan dibawah standar, baru saya berani memilih home Schooling, agar ia jadi anak yang unik sesuai kemampuan dan potensinya.
Itu yg bisa saya sampaikan di awal ini.
Sesi tanya jawab
Mba Meita: Assalamualaikum wr.wb Abah Lilik, bagaimana mengetahui bakat seorang anak ? Sebenarnya, apa perbedaan bakat dan minat ? Ada seorang anak yang kesukaannya berubah-ubah. Saat ini suka olahraga ini, kemudian olahraga itu, kemudian menyukai dunia crafting, kemudian menyukai dunia menulis dll. Seolah masih dalam masa pencarian. Lantas dimana pencarian itu berakhir? Dan tinggal mengasah dan mengembangkan bakat..
Jawabnya, Hidup adalah proses penyempurnaan jiwa, proses pengembangan diri. Proses pencarian, jika sudah dapat cari terus yg lain dlm rangka cari kehidupan Allah.
Ndk masalah kalo salah pilih, yg penting segera menyadari, kata bijaknya ndk masalah seberapa dalam anda jatuh yg penting seberapa cepat anda bangkit kembali.
Nah untuk bangkit dan menemukan lagi itu perlu keberanian dan belajar evaluasi diri.
Jadi pupuklah keberanian pada anak kita dan kemauan untuk belajar evaluasi diri. Disini juga diajarin belajar ikhlas dgn masa lalu.
Sampai kapan pencarian?
Setidaknya dalam psikologi Barat maupun dalam tahapan pendidikan islam ada diberikan tahap tahap perkembangan anak, harapannya usia 20 dia sudah bertanggungjawab, sudah memilih. Karena remaja 'teen' secara logika bahasanya harusnya berhenti di usia 19
Kita punya waktu 10 tahun pertama dan 10tahun kedua. Untuk anak anak belajar mencoba, melakukan, memahami.
Bayangkan kalo waktu sesingkat itu, mereka diperlakukan secara seragam disekolah, belajar dgn gaya yg sama, bahkan adakalanya belajar yg sebenarnya ndk perlu dipelajari, hanya karena itu keharusan dan program sekolah saja.
Bu Amiyati, Abah lilik yg sy hormati, terkadang sedikit bnyk kt melihat keunikan2 anak2 kita, namun utk memutuskan pd pilihan hs krn ingin mengeksplor keunikan tsb mngkn bnyk ortu yg blm siap...ada bnyk hal yg blm diketahui...
Mngkn bs membantu kami (ortu) utk mempersiapkan hal2 terkait keunikan anak2 kt tsb, secara mental dan jg scr teknis praktek hs dr awal smp akhir..
Saya juga sedang belajar hal itu, saat ini yg sedang saya faham, mungkin suatu saat bisa dikoreksi, ada 3 hal dasar yg harus dipahami terlebih dahulu : 1. Tentang Visi
2. Komunikasi positif dan emphatic
3. Keadaan zaman
Visi Dibentuk oleh Empat hal : imajinasi, emosi-rasa, Logika - pengetahuan, nurani-keyakinan
Nah ketika anak anak suka rafting besoknya lagi suka futsal, itu baru wilayah rasa, eksplorasi lah imajinasi, Logika dan wawasan pengetahuan (misalnya mengenal tokoh dan profesi) serta berikan motivasi dan keyakinan
Komunikasi
Gaya komunikasi kita jangan sampai membuat anak traumatic, justru bagaimana caranya agar ia belajar dari proses yg ada dan mau mengekspresikan pd kita. Hargai proses belajar dari kesalahan bukan menyalahkan.
Nah kalo bagian ini nih, kembali lagi pada kondisi keimanan kita dan psikologis ayahbunda
Keadaan zaman
Zaman begitu cepat berubah, dan anak kita siapkan utk zamannya, pandai pandanglah kita berdiskusi soal dunia sekarang dia tantangan yg akan datang, bukan menggurui tapi pancing mereka untuk merespon nya, memberikan pendapat nya
Bu Aty: Assalamu'alaikum Abah...
Bicara tentang keunikan anak, kedua anak sy ini kan sangat kinestetik dan mudah bosan. Jd pinginnya memang sekolah. Karena melihat teman2 sebayanya sekolah. Pengennya sih yg kecil usia 2,5 thn dulu blm sy sekolahkan, tp dia sudah minta sekolah. Kynya kalau di rumah bosan gitu Bah, tidak ada teman main. Nah, apa yg harus sy siapkan atau lakukan bila sy ingin menerapkan HS bila tipe anak2 sy seperti itu Abah?
Semua anak anak punya potensi 'kinestetic' walaupun persentasenya beda beda.
Idealnya sih di HSMN ada pertemuan buat anak anak seusia seperti itu.
Kalo untuk di PAUD no problemo selama kita juga terlibat di dalamnya. Karena PAUD bukanlah sekolah formal layaknya Sd dst nya. Untuk ia belajar bersosialisasi, Idealnya memang dibuat 'PAUD ala HSMN'
diusia 2 sd 7tahun adalah masa praoperasional menurut Perkembangan kognitif ala Jean Piaget
Nah dibutuhkan ayahbunda yang 'ekspresif' dan senang bermain serta kreatif. Manfaatnya adalah agar anak semakin 'trust' pd ayahbunda.
Dan perlu diingat juga di usia itu muncul 'temper tantrum' yg perlu ayahbunda yg mau belajar lg cara mengatasinya
pertanyaan bu Diah, bagaimana cara berkomunikasi kepada anak agar tumbuh rasa percaya diri.
Baiklah
Anak anak adalah peng'copy' terbaik atas sikap orang prnah disekelilingnya, nah pastikan dulu apakah cara kita berkomunikasi sudah baik atau justru menstimulus rasa tidak percaya diri.
Selain pelukan, ucapan memotivasi, ajarkan berdoa, juga perlu secara perlahan mengajarkan logika perubahan, Logika ikhtiar, tentunya ada dialog dan diskusi dengan anak, sambil dibuatkan mindmap kemungkinan apa saja jika kita percaya diri dan percaya diri, jika gagal
dan sukses. Semacam belajar visualisasi, boleh boleh saja kan berandai andai pada masa depan. Yg penting proporsional
Ajarkan ia untuk mengekspresikan perasaannya sambil bersimulasi jika A maka.... Jika Bu maka...
Karena pengembangan psikologi diri anak adalah mendidik kebutuhan logika rasa nurani dan kemauan.
Jadi komunikasi lebih bermakna, bukan sekedar celetukan, atau ekspresi sesaat atau spontan saja
Kesimpulan.
Yuk buat Visi diri di HSMN ini, visi mimpi yg bertanggung, imajinasi yg didetailkan dikonkritkan.
Sehingga pengembangan diri kita sebagai ayahbunda yg unik sejalan dengan membangun keunikan pd anak.
sejatinya orang tualah yang diberi amanah untuk mendidik anak anak mereka
HSMN YOGYAKARTA
0 comments